Login

POLITEKNIK ATMI

Competentia . Conscientia . Compassio

Rumah Tahan Gempa

Meski tugas utama adalah bergelut dalam mesin industri, tetapi Akademi Teknik Mesin Industri Surakarta juga mengembangkan produk-produk untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Salah satunya adalah rumah tahan gempa hingga 8,3 skala Richter.

Upaya untuk mengembangkan basic need kualitas hidup, Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) mengembangkan tiga hal, yaitu housing, water, dan energi. Pengembangan kebutuhan dasar atas kualitas hidup (quality life improvement/QLI) ini sudah dilakukan jauh hari sebelum bencana tsunami menyapu Aceh dan Nias akhir 2004 lalu. Itu sebabnya, untuk membantu warga di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, pada Mei 2005 ATMI telah membangun lebih dari 1.700 unit bangunan.

Gagasan awalnya, mengutip desain-desain rumah sederhana yang pernah dikembangkan di Amerika Latin yang banyak menggunakan konstruksi kayu, atau Eropa yang menggunakan konsep container house, seperti banyak ditemukan di pertambangan-pertambangan. Ide rumah container menarik karena amat praktis dan kuat. Untuk itu, prototipe rumah model container mulai dikembangkan oleh ATMI.

Rumah tradisional

quality-life_1

Konsep rumah yang "diolah" ATMI lebih merupakan pengembangan rumah tradisional nenek moyang kita. Rumah tradisional itu tidak memiliki fondasi, tetapi didirikan di atas umpak. Dinding juga tidak menahan beban, sedangkan yang menahan beban adalah struktur kolom dan pilar. Dari konsep inilah lahir konstruksi Smart Modula yang mampu menahan goncangan gempa hingga 8,3 skala Richter (gempa Nias).

Kekuatan utama diletakkan pada struktur kolom dan pilar baja. Kolom dan pilar baja itu diikat dengan sistem ikatan baut yang masih memungkinkan gerakan terkontrol sehingga gaya tekanan horizontal maupun vertikal bisa diredam secara signifikan.

"Benar bahwa sehari-hari, dosen dan mahasiswa di sini menggeluti dunia mesin industri. Tetapi, adanya keinginan membantu rakyat, ATMI mencoba mengembangkan rumah rakyat yang sederhana, rapi, dan tidak mahal. Rumah bisa rapi dan tidak mahal kalau sebagian besar sudah disiapkan di pabrik. Istilahnya, bahan bangunan prefabrication, semua dibuat presisi, sehingga mengurangi pembengkakan biaya.

Dan konsep yang kita pakai adalah rumah tumbuh untuk keluarga miskin. Kalau ada rezeki, mereka bisa mengembangkan, entah ke samping kiri-kanan, atau ke belakang, atau bahkan ke atas," jelas BB Triatmoko SJ, Direktur ATMI Surakarta, ketika dihubungi Kompas.

Bangunan yang disiapkan ATMI terdiri atas rumah untuk penduduk, kompleks sekolah, poliklinik, unit sanitasi, stasiun radio, mushala, perkantoran, dan sebagainya. Memang, rumah yang dikembangkan ATMI adalah rumah kecil tipe 36 yang dinamakan "Rumah Smart Modula".

Rumah ini juga dimaksudkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat mendapatkan rumah dalam waktu cepat.

"Perakitan dan penyelesaian rumah paling lama hanya membutuhkan waktu satu minggu. Pembangunannya pun tidak membutuhkan tenaga ahli. Dengan pelatihan sederhana, orang biasa juga mampu membangun rumah Smart Modula," lanjut Romo Moko, panggilan akrab Triatmoko.

Dapat diubah

Konsep dasar rumah Smart Modula adalah rumah prefabrication. Seluruh komponen dasar rumah dibuat di pabrik sehingga mutu tinggi dan ketepatan ukuran bisa dijamin. Kekuatan struktur rumah ini sudah diuji, dan tahan terhadap angin kencang serta gempa bumi hingga 8,3 skala Richter.

Desain rumah Smart Modula pun dengan mudah dapat diubah sesuai selera pemakai. Bahkan, rumah dapat dimodifikasi menjadi tempat pertemuan, sekolah, tempat ibadah, dan sebagainya. Berbagai bagian rumah, seperti pintu, jendela, genting, dan lantai dapat dipilih sesuai keinginan penghuni.

"Yang tak kalah penting, rumah Smart Modula yang sudah didirikan dapat dengan mudah dipindah ke tempat lain dalam waktu singkat," tambah Romo Moko.

Berapa harga rumah Smart Modula? Untuk rumah standar, harganya Rp 1,5 juta per meter persegi terpasang. Dengan demikian, harga satu rumah Smart Modula tipe 36 adalah Rp 54 juta. Dan saat ini, pihak ATMI sudah memiliki stok 50 rumah siap pasang, dan diperkirakan dua pekan lagi bisa ditambah 50 unit lagi.

"Kami juga bisa membuat rumah tingkat, dengan metode yang sama. Hanya saja, harganya berbeda, yaitu antara Rp 1,6 juta sampai Rp 1,7 juta per meter persegi terpasang. Ya, maklum, kolom yang dipakai juga berbeda. Produk ini sudah mendapat sertifikat internasional," lanjut Romo Moko.